Bekali Warga Dengan Jaring Terapung

Jatigede – Mengantisipasi sumber daya manusia (SDM) paska proyek Bendungan Jatigede, aparatur desa Sukakersa Kecamatan Jatigede, sudah tujuh hari mengadakan program pelatihan perikanan  dengan pola budidaya ikan  jaring terapung. Program akan berlangsung sepuluh hari, dimulai selasa (1/2) di aula desa, dengan dana sekitar Rp 75 juta dari anggaran program pengembangan sistem pembangunan partispatif (P2SPP).

Kepala Desa Sukakersa Karman (60) mengatakan, dipilihnya program tersebut karena bersipat pendidikan dan membantu untuk masyarakatnya menimba keterampilan untuk mengantisipasi  bendungan Jatigede selesai, selain itu menurut ia, dipilihnya program tersebut dikarenakan segala bentuk program bantuan tak boleh dialokasikan untuk pembangunan fisik, sebab desa Sukakersa merupakan wilayah bakal genangan.

” Apapun segala bentuk bantuan dari pemerintah tak boleh dialokasikan untuk pembangunan fisik, karena desa kami(Desa Sukaersa,Red) adalah wilayah genangan, makanya kami proyeksikan ke kegiatan yang mengarah ke pembekalan warga untuk mendapatkan keterampilan atau pengetahuan untuk bekal nanti jika proyek selesai,” ujarnya saat ditemui dikantornya selasa (8/2).

Karman mengatakan, target pelatihan adalah warga yang belum mempunyai pekerjaan tetap, namun kuota peserta yang akan mengikuti di batas sebanyak 50 orang, sebab penyesuaian biaya dan tempat.

” Sebetulnya sudah banyak program pelatihan yang dilaksanakan disini, seperti pelatihan tanam padi dengan pola SRI,dan itupun diikuti oleh sebagian warga kami, jadi bergiliran lah, supaya kebagian semua, seperti pelatihan sekarang, pihak desa hanya memberikan tempat untuk 50 orang, dan jika nanti ada pelatihan yang lain, ya orangnya ganti lagi,” bebernya

Rencananya pelatihan akan mendatangkan instruktur dari bimbingan latihan kerja (BLK) Sumedang serta pelatihan akan menekankan pemahaman tentang budidaya ikan dengan pola jaring terapung, selain itu akan diajarkan pembuatan pakan ikan.

” Instrukturnya dari BLK, untuk pelatihannya selama enam hari untuk pelatihan budidaya ikan terapung dan tiga hari untuk pelatihan pembuatan pakan ikan, dan kemungkinan yang satu harinya untuk praktek di kolam ikan milik warga,” jelasnya

Lebih lanjut Karman menjelaskan, program ini memang belum bisa dikatakan tepat sasaran, sebab menurut ia, arah minat warga beragam, dan ia pun belum bisa menilai efektifitasnya, sebab selama ini program pelatihan yang sudah dilakukan belum begitu optimal di aplikasikan pada keseharian warga.

” Ketika ada program pelatihan pada umumnya harus tepat sasaran, tapi memang pada kenyataannya, sulit dioptimalkan, salah satu contoh waktu pelatihan SRI, masyarakat sampai sekarang belum bisa menerapkan dilapangan, nah semoga saja program pelatihan budidaya ikan terapung ini tepat sasaran, mengingat wilayah desa kami nantinya akan jadi genangan bendungan Jatigede,” terangnya

” Kedepannya kita akan lakukan studi banding ke Saguling, supaya program pelatihan ini berkesinambungan, tak hanya formalitas belaka,” tambahnya.

Terlepas dari itu Karman juga meminta pemerintah tak hanya memberikan bantuan berupa program pelatihan, tetapi memberikan bantuan berupa modal.

” Ya mohon di bantu masyarakat dengan bantuan modal, sebab walalupun warga sudah punya bekal berupa keterampilan, tapi kalau gak ada modal ya percuma,”pungkasnya.(nng)

Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *