Bisnis Injuk, Raih Puluhan Juta

Oyo Waluyo pengusaha injuk dengan omzet puluhan juta

Tak ada yang terbuang dari pohon kawung (Arrenga pinnata merr) salahsatunya injuk (bagian dari pelepah daun yang menyelubungi batang) ternyata dapat dijadikan produk  yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Bagi Oyo Waluyo, warga Dusun Cimuruy, Desa Mekarmulya, Kecamatan Situraja, pohon dari suku Arecaceae ini sudah menjadi teman hidupnya sejak tahun 2011 lalu, saat dirinya kebingungan memilih wiraswasta apa yang akan dilakoninya, ijuk menjadi salahsatu alternatif yang tidak hanya dapat membuat dapurnya tetap ngebul, pun dengan 5 orang karyawannya.

Semula pria 44 tahun ini kebingungan dalam memilih wirausaha yang akan digelutinya, ketika di Bandung teman-temannya banyak yang menyarankan untuk berbisnis konveksi, apalagi konon bisnis konveksi sangat berprospek. Niatnya untuk berbisnis konvenksi kandas, manakala suatu hari dia dipertemukan dengan pengusaha injuk dari Malausma Kabupaten Majalengka.

Pasar yang jelas dan mudah dalam mencari bahan baku, menjadi salahsatu alasan dia memilih berbisnis injuk. Order yang didapatnya pun tidak tanggung-tanggung, setiap kali kirim barang dia harus mengirimkan sekitar 3 ton injuk, namun sejauh ini capaian target tersebut baru dapat dilakoninya setengah.

“Akhirnya saya terpaksa menginduk ke Malausma, karena belum dapat memenuhi target 3 ton per-order dalam jangka waktu satu bulan, saya dalam dua kiriman terakhir hanya mampu mengirim 5 kuintal dan terakhir kemarin 7 kuintal,” terangnya.

Selain Malausma, peminat injuk pun sebenarnya banyak datang dari kota lain seperti Bandung dan Surabaya, bahkan dari luar negeri seperti Jepang dan Malaysia pun ternyata memerlukan injuk tersebut. Ia tidak mengetahui pasti untuk apa negera-negara luar memesan injuk ke Indonesia.

“Mereka memesan injuk yang sudah dalam posisi sudah diikat, satu ikatnya itu kira-kira 3 kilogram dengan panjang 60-70 centimeter,” ujarnya.

Untuk memenuhi kebutuhan ekspor itu, terpaksa ia harus mendatangkan injuk dari berbagai daerah di Sumedang bahkan sampai ke Kabupaten Garut. Meski peluangnya masih cerah, namun kendala yang dihadapinya adalah bahan injuk yang minim.

“Saya memperkerjakan 5 orang pekerja dengan upah borongan per-kuintal Rp 120 ribu,” ungkapnya.

Limbah dari injuk yang diekspor pun ternyata dapat dimanfaatkan untuk dipergunakan sapu, ia memilah dengan digolongkan berdasarkan panjang injuk. Untuk SP1 (sapu pondok 1) ukurannya lebih dari 40 centimeter, sementara SP2 ukurannya di bawah 40 centimeter, selain dijadikan SP limbahnya pun dapat dijadikan bahan untuk tambang dan kursi jok.

Suami dari Atik Sumarni (41) ini mengatakan, berbisnis injuk bukan lagi menjadi bisnis sampingan, tetapi sudah dijadikan bisnis utamanya. Pria yang memiliki putra tunggal, Rosmiati, dan 4 cucu itu mengaku saat ini tengah melatih anak-anak muda pengangguran yang ada disekitarnya.

“Itu karena banyak minat dari masyarakat, sekarang saja dari pagi ada beberapa warga yang menanyakan apakah injuk sudah datang mereka ingin berlatih cara bikin cemara, tapi saya bilang bahan baku belum datang dan sekarng masih diambil di Garut,”ungkapnya.

Namun, agar usahanya dapat berjalan lancar dan target pengiriman sebesar 3 ton per-order dapat tercapai, ia pun akan bekerjasama dengan perajin-perajin rumah tangga ijuk yang ada di Kecamatan Situraja.

Sementara untuk limbah ekspor yang dijadikan sapu, menurutnya memiliki kualitas sapu yang baik, namun lagi-lagi bisnis itu pun belum dapat dilirik, karena keterbatasan tenaga kerja terutama yang membuat batang, apalagi memerlukan mesin bubut kayu.

Dari usaha-nya itu ia mendapat omzet 20 juta per-bulan, omzet tersebut belum dihitung dari penghasilan jika dia menjual sapu dan membuat tambang.(ign)

Tampilkan Selanjutnya

3 Comments

  1. Saya cukup tertarik dengan usaha injuk, skrang baru coba mulai belajar bikin injuk yang uk. 1,5 mter sampai uk. 45 cm dan yang 40 cm (SP 1) DAN (SP2) . Tapi sya masih bingung masarin nya, bisa minta tolong info nya ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *