Tukang Surabi, Ber-omzet Rp 200 ribu

Didi tengah mengambil surabi dari tampah, dimakan masih panas rasanya nikmat.

WADO – Tak begitu banyak surabi yang tersisa di atas tampahnya, acapkali dia mengangkat sebuah surabi, meski dalam keadaan masih panas, begitu tersimpan dalam tampah langsung diburu pembeli. Memakan surabi panas-panas memang memiliki citarasa tersendiri.

SORE itu udara Wado terlihat cerah, adanya berita seorang pemuda yang bunuh diri, tidak lantas membuat para pembeli beringsut. Surabi-surabi yang masih hangat itu diolah secara piawai oleh Wati, warga RT 05, RW 05, Dusun Maleber, Desa dan Kecamatan Wado.

Perempuan 57 tahun itu mengaku sudah lebih dari 30 tahun lamanya bermarkas di depan bengkel motor Daya Motor Wado. Ia mengakatakan tidak berjualan surabi shubuh hari, karena di lokasi yang sama ada penjual yang sama dan buka shubuh hari.

“Saya sudah lama berdagang di sini, kebetulan Pa Haji (sebutan untuk yang punya bengkel), memberi izin, mungkin karena kasihan pada saya orang miskin, kalau Shubuh sih udah ada yang buka makanya saya tidak jualan subuh, tapi sekarang sore hari saja,” tuturnya seraya mengangkat sebuah surabi yang langsung diburu pembeli.

Disebutkan nenek bercucu enam ini jika omset per-hari rata-rata antara Rp 150-200 ribu, itu dimulai dia berdagang sejak pukul 16.00-21.00, dengan menghambiskan bahan baku beras sebanyak 3 kilogram.

Dalam masa perekonomian negara yang tidak menentu seperti sekarang ini, seperti adanya wacana kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan naiknya Tarif Dasar Listrik (TDL) April mendatang, mau tidak mau akan berimbas pada usahanya. Hal itu karena untuk penerangan pada malam hari yang masih mempergunakan petromak.

“Iya jelas ada imbas dari akan naiknya BBM itu, meski sekarang saya untuk bahan bakar surabinya sendiri menggunakan kayu, tapi kan untuk penerangan saya menggunakan Petromak, dalam sehari itu menghabiskan minyak tanah seliter dengan harga Rp 13 ribu per-liter-nya,” ungkapnya.

Lain dari itu Wati pun mengatakan, bahan baku utamanya, beras, juga sempat mengalami kenaikan hingga Rp 9 ribu, namun saat ini untuk beras dengan kualitas yang sama sudah mulai turun ke level Rp 7500.

“Ya, Alhamdulillah sekarang beras turun lagi jadi Rp 7500, kemarin-kemarin kan sempat naik Rp 9ribu, tapi tidak tahu kalau nanti benar-benar Pemerintah menaikan BBM,” ucapnya.

Surabi Mak Wati memang terkenal dengan citarasa yang khas, selain itu, ciri khas surabi ini adalah oncomnya, meski banyak modifikasi surabi namun mak Wati yakin, dengan mempertahankan ciri utama surabi justru pembeli akan lebih tertarik.

“Surabi yang pake telur juga sebenarnya ada, namun sekarang saya belum sempat membeli, karena kandung yang beli sudah menunggu, saya sendiri menjual surabi telur dengan harga Rp 3 ribu perbuah,” jelasnya.

Pemilik Bengkel Daya Motor, Endi Kandi, membenarkan memberi izin gratis pada Wati, hal itu didasari dirinya ingin memajukan usaha kreative yang dilakukan Wati. “Dari tahun 1979 dia sudah berjualan di depan bengkel saya, saya kasian sama dia,” ucapnya.

Di tempat yang sama seorang pembeli warga Desa Tarikolot, Kecamatan Jatinunggal, Didi (53), dia mengaku jauh-jauh membeli surabi dari Tarikolot, karena tertarik dengan surabi mak Wati, yang masih mempertahankan ciri khas surabi oncom.

“Untuk jangka waktu yang tidak terlalu lama senangi, mungkin surabi modifikasi mungkin bagus. Tapi jika ingin lama disenangi lebih baik yang asli, diupamakan rasa keju, kan tidak setiap orang senang dengan rasa itu, tapi dengan cita rasa yang asli semua orang pasti senang,” ungkapnya menambahkan.(ign)

Tampilkan Selanjutnya

7 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *