KAOS MU PALING MAHAL, PRODUK INDONESIA

FEATURE & OPINI
Kampus London College of Media Journalism (LCMJ).

LONDON – Hawa dingin menggigil pada jam 09.00 pagi, hujan rintik rintik mengantar saya pergi ke kampus London College of Media Journalism (LCMJ).

Perjalanan dari Hotel Kensington Room Hotel tempat saya menginap ke kampus menempuh perjalanan 2x naik kereta api agar sampai ke King’s Cross Road, dari sana berjalan sedikit ke 291 Grays In Road alamat kampus LCMJ.

Sebelum masuk ke stasiun kereta, Rabu pagi di saat hujan rintik dan hawa dingin sekitar 3-4 derajat Celsius, benar benar seperti di dalam kulkas.  Saya sempatkan meroko di salah satu sudut jalan depan sebuah restoran.  Tak banyak tempat yang diperbolehkan merokok, disana selalu saja menemukan peringatan “No Smoking!”.  Saat menghisap Rokok kesayangan yang memang sengaja di bawa dari Jakarta, seorang perempuan bule pun datang dan dia pun menyulut rokoknya.

You from Indonesia?” kata perempuan itu tiba tiba, “Yes….!?” jawab saya. “the smell of cigarettes you typically… I like it, you come from indonesia!?” katanya, saya pun memberi dia 2 batang rokok kesayangan, “Oooh Thank you…. you from Bali?” Perempuan itu nuduh saya dari Bali, sontak saya pun membantah “No..no… I am from West Java!”.  Ternyata perempuan bernama Diana itu  Gadis Slowakia yang pernah datang ke Indonesia dan mengenal saya berasal dari Indonesia dari bau asap khas rokok Indonesia yang saya hisap.

Habis dua batang, saya pun pergi meninggalkan Diana dan masuk ke Stasiun kereta bawah tanah Goustener menuju King’s Cross Road, untuk bergabung dengan  Teman – teman dari media pengelola Pertamina.com yang menginap di Victoria sedangkan saya di Kensington.  Tentu terpisah jauh sehingga kami hanya bisa  bertemu  di kampus saja.

Dalam kelas hanya ada 5 murid, selain saya dan 4 rekan lainnya dari Pertamina. Mulai belajar jam 10.00 dan pulang jam 17.00, Pulang dari belajar kami selalu berlima jalan jalan ke mana saja termasuk rabu sore sengaja ke Oxford.  Seperti yang dilakukan rabu sore itu kami masuk ke sebuah Plaza yang menjual banyak pakaian Olahraga.

Teman teman antusias membeli baju baju MU, Arsenal, dan lainnya.  Sebaliknya saya lebih memilih produk lain.  “Kenapa mas ngak beli kaos Club sepakbola?, ngak suka Bola yaa.??” Tanya Mas Arya. Sambil tersenyum saya menjawab, “Saya cari kaos Persib ngak ada ya mas!?”, dia tertawa sambil memperlihatkan kaos Manchester United, “Lihat nih mas, kaos ini bagus sekali…!?” saya ambil kaos yang dipegang mas Arya, memang benar benar ekslusif, seekslusif harganya yang mencapai 30 Poundsterling (Rp. 435.000,-/kaos).  Betapa kagetnya di label kaos tersebut saya membaca, “Made in Indonesia”.  “Ngapain beli Made in Indonesia jauh jauh ke London, Mas…!? kata saya sambil menunjukan label. Mas Arya pun tertawa, dan belanja Kaos MU Ekslusif pun batal.

Dari dua kejadian sehari itu, saya menemukan 2 hal penting bahwa asap rokok Indonesia sangat khas dan disukai di London, sayang rokoknya tak ada di pasaran London.  Namun hal kedua, saya baru bangga bahwa T-Shirt MU yang harga per kaosnya hampir setengah juta rupiah itu, juga produk Indonesia.

Hal yang menarik setelah 3 hari tinggal di London, saya masih bingung dengan hitungan Uang.  Rupiah dari Jakarta di tukar dengan Pound Sterling seharga Rp.14.500 per 1 Poundsterling, tentu dengan lembaran uang 10, 20 dan 50 Poundsterling.  Setiap belanja saya mendapat pengembalian dalam bentuk recehan koin ada yang 1 Pound, 2 Pound, 50 Pence,  bahkan 1 Penny.  Tentu bingung bagaimana hitung-hitungan uang koin itu.  Karena setiap mengeluarkan uang lembaran Pound selalu mendapatkan pengembalian koin, tentu koin Pence dan Penny menjadi banyak.  Menjelang pulang ke hotel saya membeli  1 bungkus egg mayonnaise & Cress plus Coca Cola Cherry yang harus saya bayar sekitar 3 Pound lebih.  Karena ngak tahu nilai pence atau penny itu berapa, untuk mengurangi jumlah koin saya keluarkan semua koin di depan kasir sambil berkata,   “I have a lot of coins, Please take the worth of my shopping..!?” kasir pun memungut beberapa koin.

Tagged

Tinggalkan Balasan