Jangan Biarkan Kemarau Jadi Ranjau

BENDUNG – Menghadapi musim kemarau, para petani cenderung membuat bendungan di sungai.
IGUN GUNAWAN/SUMEKS

Di zaman yang sudah moderen seperti sekarang, disaat teknologi canggih bisa dibuat dengan mudah; banyak alumnus universitas yang ahli di bidang pertanian; atau berita terhangat dan melokal tentang Sekolah Menengah Kejuruan dan Pembangunan (SMK PP) Negari Sumedang yang mendapat ISO 9001:2008, ternyata musim kemarau bagi para petani di wilayah Sumedang seolah-olah sebuah ranjau. Bila kreatif dan kuat akan selamat, jika tidak maka terjerat. Ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut atau menjadi sebuah kebiasaan yang membudaya dari generasi ke generasi.

 

Dampak Ranjau Kemarau

Kemarau memang dianggap membawa dampak buruk bagi petani. Sebab pada musim kemarau debit air menjadi berkurang bahkan nyaris tak bisa ditemukan hingga dapat menggangu proses bertani. Oleh karena itu, mereka berupaya melakukan berbagi upaya untuk pengadaan air. Di Kecamatan Situraja misalnya, memasuki musim kemarau seperti sekarang petani harus memompa air dari Sungai Cimacan yang berada di bawah lahan pertanian mereka. (Sumeks, 21/06/12).

 

Namun menurut Didi Sukmadi (53) yang berpropesi sebagai tani di Desa Malaka, tak semua petani yang ada di wilayahnya menanam padi, jika kemaraunya diperkirakan akan lama, mereka lebih memilih menanam palawija yang konsumsi airnya lebih sedikit, bahkan lebih cenderung ada sebagian petani yang membiarkan lahannya tak dipergunakan. (Sumeks, 21/06/12).

 

Hal itu jelas harus dianggap sebagai masalah yang harus diperhatikan dan dicari jalan keluarnya oleh pemerintah. Tidak bisa petani dibiarkan sendiri dengan istilah mandiri. Pandanglah petani sebagai subsistem yang akan mempengaruhi subsitem-subsitem lainnya. Sebab, meskipun hanya sebagian petani yang tidak bercocok tanam tetap saja akan mengurangi pasokan beras di wilayah sekitar. Apalagi jika sebagian besar petani di negara Indonesia enggan bertani, semakin langkalah beras di negara yang lahan pertaniannya luas ini. Miris sekali.

 

Menyelamatkan Petani

Menanggapi Menteri Pertanian, Dr. Ir. Suswono, MMA saat memimpin upacara peringatan Hari Krida Pertanian ke 40 di Lapangan Kampus Kementan, Jakarta pada Kamis (21/06), yang menyatakan, “Sektor pertanian memiliki peran strategis khususnya dalam penyediaan kebutuhan pangan masyarakat, apalagi berdasarkan direktif Presiden RI ditetapkan bahwa untuk pangan tidak hanya harus cukup tetapi ditargetkan surplus 10 juta ton beras pada 2014. Untuk itu dibutuhkan kerja keras pemerintah dan masyarakat petani dalam memenuhi kebutuhan tersebut” (deptan.go.id, 21/06/12). Maka, berbagai program harus digulirkan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Sumedang khususnya dinas pertaniannya.

 

Banyak cara yang bisa kita lakukan. Misalnya dengan sistem gilir seperti yang dilakukan di Cirebon. “Sistem gilir diberlakukan karena debit air di Bendungan Rentang yang terus menyusut seiring datangnya musim kemarau. Selain itu kami juga turut mengawal air sampai tujuan untuk mengantisipasi pihak-pihak yang nakal yang ingin membelokkan air,” kata Kabid Operasional Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung, Kasno. (inilah.com,20/06/2012).

 

Selain sistem gilir, Pemda Sumedang juga bisa menerjunkan penyuluh-penuluh pertanian seperti yang dilakukan di Sukabumi. Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Sukabumi Abdul Kodir mengatakan dalam menghadapi musim kemarau yang diikuti dengan kekeringan pihaknya telah mengerahkan ratusan penyuluh pertanian. ”Keberadaan para penyuluh nantinya diharapkan mampu mengarahkan dan membantu para petani. Misalnya dengan menginformasikan perubahan jenis tanaman dari padi ke palawija,” kata Abdul Kodir (inilah.com,20/06/2012).

 

Atau dengan menggalakkan pemerataan program-program penyuluhan dan pemberian bantuan seperti yang dilakukan oleh Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) pada Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Situraja. “Untuk Blok warayan Desa Malaka sudah diberi bantuan pompa sejak beberapa tahun kebelakang. Saat inipun pompa tersebut masih dapat dipergunakan. Bahkan tahun ini blok tersebut terutama di kelompok tani Mekarmulya pihaknya telah ada program Demfarm (Demontrasi Farming), ungkap seorang PPL Situraja Agus Carman A.Md, (Sumeks, 21/06/12).

 

Petani Ber-SRI

Penulis pernah membaca di buku ‘Pengembangan Komoditi Unggul Kabupaten Sumedang’ yang diterbitkan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Sumedang pada tahun 2006. Dalam pembahasan padi ada istilah The System Rice of Intensification (SRI). Ternyata dengan sistem ini terdapat banyak keuntungan yang bisa didapatkan oleh para petani terutama dalam kondisi kemarau seperti sekarang. Diantaranya adalah: 1) menguntungkan petani, karena selain produksi yang tinggi harga besar organic cenderung lebih tinggi, 2) hemat air, karena air yang digunakan kondisi lembab sampai macak-macak, tanpa genangan apad masa pertumbuhan, 3)ramah lingkungan, karena tidak menggunakan pupuk kimia dan pestisida kimia, tapi menggunakan bahan-bahan yang ada di lingkunagn dan limbah/sampah rumah tangga, 4) beras sehat, beras cenderung lebih sehat karena diproduksi tanpa pestisida dan pupuk anorganik.

 

Secara visual di lapangan padi sistem SRI dapat dibedakan dengan tanaman padi konvensional dapat kita lihat dari tabel berikut:

 

Tabel. Perbandingan Kondisi Tanaman Sistem Konvensional dan SRI

 

Uraian

SRI

Konvensional

Jumalah benih (kg/100 batang)0,7 – 105 – 7
Tanaman bening (batang)13 – 7
Jumlah anakan (batang)30 – 12014 – 36
Jumalah anakan bermalai (batang)25 – 668 – 26
Batang/pohonLebih tinggi dan kekarPendek dan kurus
Warna batang dan daun saat padi masakHijau segarKuning kecoklatan dan kusam
Kondisi akarMenyebarMenggumpal
Panjang akar (cm)20- 2310 -15
Panjang malai20 – 30 cm12,5 – 20 cm
Jumlah bulir per malai220 – 280100 -150
Bulir hampa10%10 – 40%
Penggunaan airMaca-macakMenggenang
Sistem pengairanTerputusTerus-menerus

 

 

Mencari Solusi Terbaik

Menurut hemat penulis, untuk wilayah pertanian di Sumedang mesti mengacu pada program intensifikasi pertanian. Intensifikasi pertanian adalah pengolahan lahan pertanian yang ada dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan hasil pertanian dengan menggunakan berbagai sarana. Program ini sangat cocok dengan kondisi lahan pertanian Sumedang yang sedikit.

 

Mengapa tidak dengan program ekstensifikasi lahan? Ekstensifikasi lahan atau yang lebih dikenal dengan istilah perluasan lahan pertanian, bagi penulis, tidak cocok dilakukan di wilayah Sumedang. Pasalnya jangankan memperluas, menjaga lahan yang ada nampaknya sering kecolongan. Tahun lalu saja, Sekretaris Daerah Kabupaten Sumedang Atje Arifin mengatakan, “Dari 4.896 hektare (ha) lahan yang digunakan untuk pembangunan Waduk Jatigede, sebanyak 2.500 ha adalah lahan pertanian dan perkebunan. Jika ditambah dengan lahan yang dialihfungsikan untuk pembangunan Jalan Tol Cisumdawu, serta pemukiman penduduk, total lahan yang beralih fungsi mencapai sekitar 4.000 ha. Jika produksi padi per hektare sebanyak 5 ton per musim atau 10 ton per tahun, maka jika 4.000 ha lahan beralih fungsi maka diperkirakan terjadi pengurangan produksi 400.000 ton per tahun” (inilah.com,25/05/2011). Luar biasa.

 

Selain untuk waduk Jatigede, jalan tol CISUMDAWU dan pemukiman penduduk, ternyata banyak lahan pertanian di kota tahu ini terkerus akibat dialihfungsikan sebagai lahan industri. Masih mending bila lahan pertanian tersebut dipindahkan atau disediakan lahan pengganti. Sudah tidak diganti dampak limbah industri pun kadang mencemari lingkungan. Hal ini bisa terjadi akibat Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) yang tidak dilakukan secara bersama oleh pihak perusahaan, pemerhati lingkungan, ahli pertanian dan perkebunan dan pemerintah setempat. Ini harus diperhatikan, jangan hanya melihat banyaknya pasokan dana yang akan masuk di kas pemda saja.

 

Semoga pemerintah lebih perhatian dan berkomitmen kembali untuk memperhatikan kondisi patani. Terutama dalam memberikan bantuan dan penyuluhan dimasa-masa kemarau sekarang. Program SRI misalnya, jika memang sistem ini dipandang menguntungkan sudahkah program ini berjalan?
Penulis : Fengki Ari Anggara adalah Mahasiswa Jurusan Manajemen Produksi di IKOPIN. Aktif menulis di www.SUMEDANGONLINE.com

Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *