Cerita: Sasakala Cimanuk

Kearifan Lokal

Sultan Mataram Pangeran Tjakraningrat mengutus umbul Arim Muhammad dan Arif Muhammad untuk menyampaikan surat kepada Bupati Sumedang Pangeran Suradiwangsa. Surat perintah perang tersebut, sebagai gerakan sosialisasi politik yang diarahkan untuk menggalang kekuatan militer Mataram, dalam rangka menyerbu Kompeni yang bercokol di Batavia.

Umbul Mataram kakak beradik itu, meniggalkan kesultanan diikuti oleh beberapa orang prajurit, mereka berjalan kaki dengan jarak yang sangat jauh. Para pengikutnya satu persatu meninggal dunia akibat diserang penyakit demam berdarah. Tinggalah Arim Muhammad dan Arif Muhammad. Kedua umbul itu sempat putus harapan karena jarak yang mereka tempuh cukup jauh, namun mereka kesasar di hutan belantara, sementara perbekalan sudah cukup habis, terpaksa memakan dedaunan dan biji-bijian, dan buah-buahan. Beberapa hari kemudian utusan Mataram kembali melanjutkan perjalanan, dengan bermodalkan semangat. Sampailah di sebuah hutan angker yang terletak di belahan timur Sumedang. Mereka kebingungan menentuka arah jalan yang harus dilalui, tak ada pilihan lain kecuali beristirahat di dalam hutan. Disanalah mereka menunggu penduduk yang lewat. Tetapi selama berhari-hari tidak ada seorangpun penduduk yang lewat situ, maka sulitlah untuk mendapatkan keterangan. Tentang jalan menuju Kabupaten Sumedang.

Tak diam sampai disitu, semangat tetap menyala, karena tugas bagi mereka adalah sabda Sultan, apabila gagal akan mendapat hukuman. Itu sebabnya tidak mengabaikan tugasnya walaupun harus ditempuh dengan pengorbanan yang sangat besar. Perjalanan yang melelahkan menempa mental mereka antara putus asa dan semangat yang mengiringi langkah langkah kakinya. Tebing curam, jalan setapak berduri duri, sungai-sungai, hutan-hutan angker yang telah dilaluinya sebagai jeram kehidupan yang menguji dirinya. Sampailah di daerah tepian sungai. Perjalanan mereka terhenti, karena cuacanya buruk. Awan mendung, kilat bersahutan, disertai dentuman petir menggelegar-gelegar, hujan pun terus deras. Mereka mencari tempat yang aman dengan berlindung di sela-sela batu. Namun mereka sulit keluar, karena hujan tak pernah reda berlangsung selama dua minggu. Terdengar gemuruh sungai disertai longsoran membuat Arim Muhammad dan Arif Muhammad dicekam ketakutan. Mereka menduga hutan itu akan dilanda banjir dan bencana longsor.

Di tengah-tengah derasnya hujan, mereka mencari tempat yang lebih aman, namun mereka terjebak banjir dasyat akibat gunung pareureug yang terletak di Parakankondang longsor. Bongkahan batu dan tanah menutup aliran sungai sehingga meluap. Perkampungan yang berderet di sekitar tepian sungai dan ribuan hektar lahan pertanian karam di telan banjir. Penduduk mengungsi ke daerah yang lebih tinggi. Terpasa Arim dan Arif Muhammad harus menunggu air surut, legalah hati keduanya, setelah hujan reda, namun terpaksa harus menunggu air surut.

Tiba-tiba kakek tua menghampirinya. Rupanya kakek tua atau Aki Pangebon peka menyimak kedua Umbul Mataram itu, mereka sedang mengalami kesulitan. Kedatangan Aki Pangebon di sambut baik, Arim Muhammad menanyakan nama sungai itu. Aki Pangebon tak buru-buru menjawab, rupanya bingung menyebutkan nama sungai, karena selama mengembara di hutan itu, tidak pernah mendengar nama sungai tersebut. Aki Pangebon melepas pandang ke atas pohon. Burung-burung berkicau sambil melompat-lompat di dalam pohon. Aki Pangebon menjawab pertanyaan umbul Mataram dengan mentebutkan Sungai Cimanuk. Setelah itu Arim Muhammad dan Arif Muhammad mengutarakan maksudnya, tidak lain hendak menemui Bupati Sumedang. Aki Pangebon menyarankan agar menghentikan perjalanan selama air belum surut, karena berbahaya. Rupanya Arim Muhammad tak memperdulikan saran itu, malah memaksakan diri melakukan penyebrangan dengan menggunakan pohon pisang. Aki Pangebon tak berbuat banyak kecuali berharap agar mereka sampai ke tujuan.

Arim Muhammad dan Arif Muhammad terapung-apung di atas permukaan air, mendaki ombak yang demikian besar, dan hampir-hampir tenggelam. Mereka berusaha menaklukan ombak, tiba-tiba rakitnya nyelonong ke arah selatan seperti mendapat tarikan gaib, sehingga terdampar di sebuah bukit kecil. Di tepi bukit itu, banyak penyu atau kuya, rupanya kura-kura itu terbawa banjir. Mereka menyebut bukit kecil-kecil Cikuya. Disanalah mereka mendirikan gubuk sebagai tempat istirahat. Dalam perkembangannya menjadi sebuah tempat berguru Agama Islam atau Pesantren yang pertama kali ada di bumi Darmaraja. Sedangkan Arif Muhammad menyebut bukit kecil itu Ciduging ( cai dugu = Batas permukaan air) pada saat banjir. Kemudian tempat itu disebut Dusun Ciduging dari kata Cai Dugi atau batas banjir.(*)

2 thoughts on “Cerita: Sasakala Cimanuk

  1. Mantap, adakah cerita sasakala bendungan jati gede. Mengapa jati gede harus di bendung? Jika untuk pembangkit tenaga listrik? Apakah belum sampai pembangkit cahaya dari perpendaran warna secara abstrak, bukan karena tidak merasa cukup tapi mungkin belum maksimal, apalagi ada aturan tekhnisi harus minimal D3 sedangkan aspekulasi hanya berpendidikan ? dana – jangkau_an – otak – sklist=kemampuhan. Sertifikasi_set bisa di dapat dari hasil produk. Memang terlalu…….

Tinggalkan Balasan