Pembangunan Jalan Tol Cileunyi – Sumedang – Dawuan (Cisumdawu) yang merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional. [FOTO KASKUS]

 ISTIMEWA
9911867_201804260512370797 : Pembangunan Jalan Tol Cileunyi – Sumedang – Dawuan (Cisumdawu) yang merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional. [FOTO KASKUS]

Benarkah Gegara Makam Keramat Dibangun Terowongan Tol Cisumdawu?

Pilihan Redaksi SUMEDANG

[DESK d=PAMULIHAN]Sebagian warga menduga dibuatnya terowongan Jalan Tol Cisumdawu, sepanjang 500 meter, karena melintasi lokasi makam keramat. Sehingga pihak proyek karena nggak mau membongkar makam keramat tersebut, akhirnya dibuatkan terowongan. Benarkah informasi tersebut?

Untuk menelusuri kebenaran informasi itu, Sumedang Online mencoba menemui beberapa warga yang persis berada di sekitar lokasi terowongan. Dewi, warga Dusun Cilengsar, RT 02/011 Desa Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang meluruskan informasi tersebut. Dia memastikan tidak ada makam di atas terowongan tersebut.

Teu aya makam, terang ibu da asli orang dieu. Aya oge nu kabongkar ku Tol Cisumdawu, sisi jalan caket Kampung Toga, itu mah milik keluarga Pak Cecep, Pak Adang. Eta aya tilu makam, tos dipindahkeun Ma Acih, Pak Yaya, Pak Sasmita (Tidak ada makam, ibu tahu karena asli orang sini. Ada juga (makam) yang sudah dibongkar oleh Tol Cisumdawu, pinggir jalan dekat Kampung Toga, itu milik Pak Cecep,Pak Adang. Ada tiga makam, tapi sudah dipindahkan, Ma Acih, Pak Yaya, Pak Sasmita,” kata Dewi menjelaskan.

Meski demikian dia juga tak menampik jika 100 meter dari area terowongan, memang ada makam keramat bahkan bangunanannya sudah permanen. “Kalau di atas terowongan tidak ada. Itu mah ngan saukur kebon sampeu jeung jagong, sakaterang ibu mah. Aya oge di luhurna, tapi da teu kacandak ku terowongan,” tambahnya.

Makam yang dimaksud Dewi, yakni makam Cilengsar, dan Cibawang di Desa Cigendel. Dia juga menyebutkan jika makam itu merupakan makam Mama Eyang Singawijaya. “Tapi tidak dibongkar, karena memang jauh dari tol,” jelasnya.

Sementara versi pemerintah dibangunnya terowongan sepanjang 472 meter dan berdiameter 14 meter yang menembus Bukit Cilengsar memang untuk menjaga kelestarian alam. “Ya memang lebih mahal dibandingkan belah bukit, tapi ini nilai tambahnya lebih bagus. Masak kita mau belah bukit terus. Tol Bawen-Salatiga itu sudah banyak belah bukit,” kata Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuldjono saat itu. (iwan)

Tinggalkan Balasan