Sulap Limbah Kulit Kacang Pistachio Menjadi Energi Biogas

FEATURE & OPINI Pilihan Redaksi

KEBUTUHAN masyarakat akan Bahan Bakar Minyak (BBM) akhir-akhir ini semakin meningkat. Peningkatan permintaan bahan bakar tersebut tidak sebanding dengan ketersediaan bahan bakar yang ada. Oleh karena itu, dibutuhkan energi alternatif yang dapat memenuhi tingginya permintaan masyarakat tersebut.

Energi alternatif merupakan salah satu harapan bagi manusia saat ini yang secara terus-menerus bergantung pada pemanfaatan energi fosil yang semakin lama akan semakin habis. Sumber energi alternatif yang banyak dikembangkan saat ini adalah biogas. Pernahkan Anda mendengar BIOGAS? Biogas merupakan suatu gas yang dihasilkan dari proses anaerobik (fermentasi) yang diolah dari limbah biodegradable yang dapat diperbaharui seperti kotoran hewan dan limbah organik. Biogas dijadikan sebagai energi alternatif karena menghasilkan energi yang lebih besar dengan emisi karbon dioksida yang lebih sedikit. Salah satu limbah organik yang dapat dijadikan sebagai bahan dalam pembuatan biogas adalah limbah kulit kacang pistachio.

Kacang pistachio merupakan salah satu komoditas hortikultura terbesar yang berasal dari Turki. Sampai saat ini, bagian kacang yang dikonsumsi oleh masyarakat hanya bijinya, sedangkan kulitnya akan dibuang begitu saja dan menjadi limbah. Apabila tidak diolah dengan baik,  limbah kulit kacang pistachio ini akan berbahaya bagi lingkungan karena memiliki kandungan organik dan fenolik yang tinggi.

Kulit kacang pistachio mengandung banyak substrat organik seperti protein, karbohidrat, lemak, dan senyawa aktif hasil metabolisme sekunder, sehingga proses pemecahan senyawa, fermentasi, dan metanogenesis oleh bakteri di dalam tangki reaktor akan mengasilkan kandungan metana yang tinggi dan dapat dijadikan sebagai bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar fosil.

Demirer pada tahun 2015 dalam jurnalnya yang berjudul “Biogass Production from Pistachio (Pistacia vera L.) Processing Waste” melaporkan, kulit kacang pistachio dapat dijadikan sebagai biogas dengan bantuan bakteri metanogen dalam tangki reaktor. Peningkatan kandungan metana diiringi dengan volume gas yang terbentuk dan proses pembentukan gas metana berjalan optimum pada rentang pH 7-8. Gas metana yang dihasilkan pada proses tersebut sebanyak 213,4 ml metana/gram.

Penulis:

Ida Sayyidah Hamdah, Nurfazri Oktavia S, Nurmeida T.R, Putri Puspa P,
Mahasiswa Prodi Biologi Universitas Pendidikan Indonesia.

Tinggalkan Balasan