LSL Berisiko Tinggi Terkena HIV/AIDS

KESEHATAN Pilihan Redaksi

SUMEDANG.ONLINE – Kepala Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sumedang, Retno Ernawati, menyebutkan berdasarkan jumlah kumulatif orang yang pernah masuk perawatan. Berdasarkan faktor risiko terjangkitnya Human Immunodeficiency Virus (HIV) Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) di Kabupaten Sumedang. Lelaki Sex dengan Lelaki (LSL) mendominasi dengan jumlah signifikan sebanyak 104.

Faktor risk lainnya menurut , Retno, pentasum 6 orang, WPS 9 orang, Waria 6 orang, ODHA, dan TB sebanyak 18 orang. Perkembangan kasusnya HIV/AIDS di Sumedang dari tahun ke tahun terus meningkat. Jika pada tahun 2015 sebanyak 41 kasus dan 1 orang meninggal, maka pada Tahun 2016 sebanyak 67 kasus dengan 2 orang meninggal, 2017 sebanyak 100 kasus dengan 4 orang meninggal. Pada tahun 2018 terdapat penurunan menjadi 60 kasus dengan 4 orang meninggal, namun pada Tahun 2019 kembali meningkat dengan 114 kasus dengan 6 meninggal.

“Infeksi HIV AIDS saat ini juga telah mengenai semua golongan masyarakat, baik kelompok resiko tinggi maupun masyarakat umum. Hal ini terbukti dari bayi yang tertular HIV melalui ibunya menunjukkan tahap lebih lanjut dari tahap heteroseksual,” ujar Retno dalam Diskusi Peranan Pers dalam Upaya Penyegahan dan Penanggulangan HIV/Aids di Kabupaten Sumedang, Selasa, 21 Januari 2020.
Kasus HIV AIDS cenderung terus bertambah di usia produktif, sehingga perlu ada upaya untuk mencegah secara optimal dan efektif. Berdasarkan data usia 25-49 tahun berada diposisi tertinggi dengan jumlah 140 orang, dan usia 20-24 orang sebanyak 49 orang.

“Patut diwaspadai, perubahan gaya hidup sangat berpotensi menimbulkan kasus baru, kurangnya pemahaman yang benar dan lengkap mengenai HIV AIDS serta efek domino yang ditimbulkan dari kasus HIV AIDS positif,” terangnya.
Lebih lanjut dia menyebutkan, penularan HIV/AIDS di Sumedang pada umumnya terjadi akibat cairan tubuh yang mengandung HIV melalui kontak seksual baik heteroseksual, homoseksual, maupun biseksual, kontak darah seperti transfusi, penggunaan jarum suntik berulang, akupuntur, tindik, tatoo dan dari ibu ke anak melalui proses persalinan serta saat pemberian ASI.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumedang, dr. Renny K Anton, untuk pasien yang sudah diperiksa dan positif HIV pihaknya menganjurkan agar untuk langsung meminum ARV.

”ARV itu obat untuk HIV, memang dari usia harapan hidup dengan pasien berobat terus meminum ARV ini seumur hidup, insyaallah lebih baik. Kemudian saran saya untuk yang masih belum terkena kita proteksilah, kita ingin mewujudkan indonesia itu three zero di 2030,” ujar Reny. **FITRI**

Tinggalkan Balasan