Komisi III DPRD Sumedang, drg. H. Rahmat Juliadi, M.H. Kes.

 Komisi III DPRD Sumedang, drg.
Komisi III DPRD Sumedang, : Komisi III DPRD Sumedang, drg. H. Rahmat Juliadi, M.H. Kes.

Jika Jumlah Pasien Positif Membengkak, Rahmat: Sumedang Harus Siapkan Isolasi Hingga Tingkat RT

Pilihan Redaksi SUMEDANG

SUMEDANG.ONLINE, DPRD – Banyaknya pemudik yang pulang dari zona merah menjadi salahsatu faktor meningkatnya jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) di Sumedang. Tak hanya itu hasil Rapid Test yang menunjukan tujuh orang pasien false positif juga harus menjadi warning bagi Pemerintah Kabupaten Sumedang, terutama berkaitan dengan isolasi.

Apalagi menurut Komisi III DPRD Sumedang, drg. H. Rahmat Juliadi, M.H. Kes., jumlah pemudik saat munggah dan lebaran bisa mencapai 60-80 ribu, jika yang terdata saat ini masih 15 ribuan hal itu masih belum setengahnya.  Karenanya dia memuji langkah berani Bupati Sumedang, H Dony Ahmad Munir, dalam menetapkan Karantina Kewilayahan Parsial.

“Saya memuji keberanian bupati yang sudah melakukan karantina kewilayahan, walaupun hanya parsial. Itu guna mengurangi jumlah orang Sumedang yang mudik ke Sumedang terutama mereka yang berasal dari zona merah. Karena kalau tidak dibendung data ini bisa 60-80 ribu orang Sumedang, mereka biasanya mudik saat mungguhan dan lebaran. Jadi kalau ini 15 ribu ini masih belum setengahnya,” ungkap Rahmat saat dihubungi SUMEDANG ONLINE melalui sambungan telepon, Kamis, 2 April 2020.

Kondisi ini menjadi warning bagi pemerintah Kabupaten Sumedang, karena apabila tren pasien positif dari hasil Rapid Test terus bertambah. Akan membuat repot Pemerintah Kabupaten Sumedang terutama untuk menyiapkan sarana parasarana termasuk juga Sumber Daya Manusia (SDM) nya.

”Akan merepotkan Kabupaten Sumedang karena sarana-prasarana dan SDM yang ada di Kabupaten Sumedang ini. Sangat sangat minim, dan sangat sulit untuk bisa melakukan, istilahnya isolasi terhadap mereka yang dinyatakan oleh test itu positif. Karena kan kalau mereka positif harus diisolasi, diisolasinya mau dimana. Puskesmas tidak mungkin, karena dengan pelayanan yang ada sekarang pun, Puskesmas sudah banyak yang overload. Rumah Sakit tidak mungkin.”

”Makanya kan skenarionya Pemda membuat alternatif, Asrama Haji katanya, Unpad juga. Tapi saya rasa itu tidak cukup karena itu kan aksesnya cukup jauh dari daerah-daerah.”

”Makanya saran saya, ini ide saya siapkan dalam satu desa atau bahkan dalam satu RW, apakah itu Polindes kah, Apa itu Rumah Penduduk kah yang memang dimungkinkan. Apakah itu masjid kah atau apa, yang nanti sewaktu-waktu bisa dipakai pada saat nanti di tempat tersebut pasien positifnya cukup banyak. Misalkan Cisarua, ternyata pas dicek cukup banyak, misal ada 10 yang harus diisolasi. Di Puskesmas tidak mungkin diisoasi 10 orang. Terus kan 10 orang itu tidak mungkin dianya saja, keluarganya segala macam. Makanya harus ada, jangan sampai gugus tugas ini, makanya saya sudah sampaikan harus sampai ke tingkat RT. Di sana disiapkan satu tempat yang jaga-jaga ada yang positif perlu di isolasi. Sok sekarang mah kan di masyarakat kita mah guyub, saling bantu yang diisolasi, mungkin bisa saling bantu antar tetangga dalam mencari nafkah. Kan ini untuk kebaikan bersama,” bebernya.

Disinggung ada semacam kehawatiran dari masyarakat terhadap pasien positif, dimana rerata mereka seolah ketakutan akan tertular.

“Makanya perlu ada diedukasi, dengan adanya yang positif ketahuan, kita jadi tahu. Jangan menghindar, dalam artian menolak mereka. Justru tempatkan mereka dengan benar. Supaya tidak menyebarkan, kalau benar-benar positif, ke yang lain. Jadi sudah jelas, daripada ditolak ditolak, nanti bagaimana. (Masyarakat)yang lain nanti memantau, itu lebih bagus dan itu bisa dilakukan di tingkat desa. Dan warga itupun mendapatkan edukasi dari Dinas Kesehatan melalui Puskesmas, karena Puskesmas ada jaringannya hingga ke bawah,” ucapnya.

Berkait jumlah pemudik dikatakan dia sebenarnya pihaknya sudah memberitahukan hal ini sejak dari awal, namun sekarang karena sudah terlanjur banyak warga yang pulang. Dia menyarankan agar pemerintah untuk dapat mencegah yang pulang ke Sumedang bertambah banyak, sementara yang ada terus dilakulan pemantauan.

“Mudah-mudahan saya berharap tidak banyak yang positif, tapi kita harus siap sampai hal-hal terburuk sekalipun terjadi. Karena tenaga kesehatan maupun sarana prasarana yang ada itu jauh dari memadai untuk bisa menanggulangi kalau lonjakan yang positif itu banyak dan mereka perlu diisolai. Karena kan yang positif itu perlu diperlakukan khusus, nggak bisa diimbau cicing diimah itu nggak bisa,” pungkas dia. *FITRI*

Tinggalkan Balasan