Tak Bermasker, Nasabah BTN Disuruh Balik Lagi Padahal Mau Bayar Cicilan

BISNIS Pilihan Redaksi

SUMEDAN.ONLINE – Sejumlah nasabah Bank Tabungan Negara (BTN) di Dusun Munggang RW 08 Desa Mekargalih Kecamatan Jatinangor dibuat kecewa. Hal itu lantaran mereka tak diperbolehkan masuk ruangan, karena tak memakai masker.

Padahal menurut pengakuan para nasabah oti, mereka mengaku ditagih beberapa kali oleh pihak bank lantaran belum menyetorkan cicilan setoran kepemilikan rumah (KPR) gara gara lockdown. Ironisnya, ketika nasabah memaksakan diri pergi ke bank untuk setor tagihan, pihak bank menolak gara gara konsumen tak memakai masker. Padahal, tidak ada pengecekan suhu tubuh (memakai thermogun) oleh petugas bank.

“Bagaimana saya tahu harus memakai masker, sosialisasi juga tidak ada,” ungkap Nurman pada SUMEDANG ONLINE, Senin, 13 April 2020.

“Bagaimana saya tahu tidak boleh masuk, petugas juga tidak memeriksa memakai thermogun. Harusnya pihak bank melakukan sosialisasi tak hanya menempel di tembok bank, tetapi lewat pesan singkat atau telepon kalau ke bank harus memakai masker,” ungkapnya.

Selain itu di lokasi bank tersebut juga tak ditemukan alat cuci tangan.

“Harapannya pihak bank profesional dengan melayani konsumennya. Jelaskan yang baik jangan kelihatan kecut. Kan saya mau setor uang bukan untuk meminjam. Lah ini nasabah seharusnya menjadi raja, malah dikucilkan seperti maling saja,” ungkapnya.

Pihaknya mengetahui, bahwa pemakaian masker hanya berlaku bagi orang yang sakit saja. Penerapan social distancing (jaga jarak) dinilai cukup untuk menghindari terpapar Korona.

“Jadi sebagai rakyat kecil saya bingung. Disisi lain, pihak bank menagih terus rumah tidak disetor. Meskipun ada anjuran presiden bisa ditangguhkan. Sudah memaksanakan datang ke bank, malah diusir lagi gara gara tak memakai masker padahal saya dalam kondisi sehat,” katanya.

Jika mau menerapkan protokol kesehatan, tolong petugas menyediakan thermogun, nasabah yang datang dicek terlebih dahulu jangan langsung disuruh pulang gara gara tak pakai masker. Kemudian, di depan kantor bank disediakan alat cuci tangan dan handsanitizer agar nasabah yang masuk ke bank benar benar steril.

“Logikanya gini, bagaimana jika ada nasabah positif, tapi pakai masker. Apakah pihak bank akan melayani nasabah tersebut? Kemudian si nasabah tersebut memegang kursi dan benda lain di bank. Bagaimana menangkal korona jika di depan tidak disediakan handsanitizer,” katanya.

Jika mau menerapkan protokol kesehatan, lakukanlah sedetail mungkin. Kemudian, berikan penjelasan yang baik kepada setiap nasabah tentang penggunaan memakai masker.

“Ya jadi intinya saya kesel, mau setor uang juga dipersulit, tidak disetoran pihak bank nelepon terus. Ada penangguhan cicilan, tahun depan diakumulasikan, jadi sangat memberatkan masyarakat ditengah pandemi korona ini,” katanya.

Nurman pun mengakui, jangankan untuk setoran ke bank. Ditengah pandemi korona ini, biaya untuk makan pun sangat sulit. Disaat mau membayar cicilan, oleh pihak bank ditolak.

Sementara itu, sampai berita ini terbit, tidak ada satupun pihak bank milik pemerintah itu yang mau diklarifikasi. Pengakuan nasabah, security bank langsung menutup pintu bank rapat rapat dan tidak mau diwawancara. (ACENG)

Tinggalkan Balasan