Petugas jaga Pos Cek Poin perbatasan Wado-Malangbong, Di Desa Cilengkrang Kecamatan Wado melakukan pemeriksaan terhadap kendaraan dari luar daerah, Selasa (19/5/2020). Petugas posko tetap melakukan pengetatan terhadap kendaraan pendatang luar daerah terutama yang tidak membawa surat keterangan apapun. BON

 Petugas jaga Pos Cek Poin
Petugas jaga Pos Cek : Petugas jaga Pos Cek Poin perbatasan Wado-Malangbong, Di Desa Cilengkrang Kecamatan Wado melakukan pemeriksaan terhadap kendaraan dari luar daerah, Selasa (19/5/2020). Petugas posko tetap melakukan pengetatan terhadap kendaraan pendatang luar daerah terutama yang tidak membawa surat keterangan apapun. BON

Breaking News, PSBB Sumedang Dilanjut Seluruh Kecamatan

Pilihan Redaksi SUMEDANG

SUMEDANG – Pemerintah Kabupaten Sumedang akhirnya memutuskan untuk melanjutkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kabupaten Sumedang. Berbeda dengan PSBB I dan II yang 14 hari, PSBB III ini hanya 10 hari mulai 20 Mei 2020 hingga 29 Mei 2020.

Menurut Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan penanganan Covid-19 Kabupaten Sumedang, Dr Iwa Kuswaeri, hal ini berdasarkan Keputusan Bupati No 443/Kep.235-HUK/2020 tentang Perpanjangan Pemberlakukan Pembatasan sosial Berskala Besar di Daerah Kabupaten Sumedang dalam rangka percepatan penanganan Covid-19.

“PSBB sebagaimana diputuskan Bupati, berlaku di seluruh kecamatan. Keputusan ini, juga sekaligus meralat informasi sebelumnya bahwa akan dilakukan PSBB Parsial. Perpanjangan ini berlaku sejak mala mini pukul 00:00 WIB hingga 10 hari ke depan, atau 29 Mei 2020,” ujar iwan dalam siaran tertulisnya. Selasa (19/05/2020).

Menurutnya, Pemerintah terus melakukan evaluasi dan diskusi menyeluruh terkait dengan percepatan penanganan covid-19 di wilayah kabupaten Sumedang. Usaha Pemerintah Kabupaten Sumedang nyaris sia-sia, ketika melakukan pergerakan besar untuk melakukan pembatasan sosial dan melakukan berbagai cara. Ternyata tidak berbanding lurus dengan hasil yang diperoleh. Walaupun secara keseluruhan berhasil melakukan penekanan terhadap lajunya pertumbuhan covid-19, namun tren pertumbuhan masih sangat potensial.

Hal ini terjadi akibat larangan mudik dari zona merah, yang malah membuat mereka berbondong-bondong mudik. Baik secara sembunyi-sembunyi dengan melalui jalur ‘tikus’ maupun yang terang-terangan.

Hal ini tercermin dari hasil test rapid yang dilakukan secara masal dan kemudian dilanjutkan dengan SWAB Test. Pertumbuhan jumlah Reaktif Rapid, naik tajam. Begitu pun dengan jumlah pasien terkonfirmasi Covid-19.

“Angka menunjukan jumlah pemudik malah kian bertambah, ketika dilarang dan hingga menjelang PSBB. Bahkan di PSBB tahap 1, Kita mencatat pemudik lebih dari 20 ribuan. Berdasarkan rapid test, menunjukan bahwa yang hasilnya reaktif sebagian besar adalah para pemudik,” tegasnya.

Oleh karena itu, kata Iwa, jika saudara-saudara kita yang berasal dari Zona merah maupun lainnya, mudik ke Sumedang di saat ini, akan menyulitkan semua orang.  Untuk diketahui, bahwa kurva kita masih naik. Belum landai. Jika ditambah lagi dengan datangnya pemudik di masa lebaran, kurva itu kemungkinan akan tambah naik.

“Dari jumlah pemudik yang terdata saja, Kita baru 5.2% yang dilakukan masif rapid test. Dan hasilnya cukup menegangkan. Apalagi jika ditambah dengan pemudik baru. Bisa tidak terkendali,” terang  Iwa.

Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Sumedang, berharap kepada masyarakat agar berusaha keras untuk tidak mudik atau melarang saudara dan keluarga mudik sampai benar-benar suasan aman.

“Ini akan sangat bermanfaat. Jika kita bisa menahan mudik, tentu akan menahan laju kurnva dan proses percepatan penangan covid-19 akan segera berakhir. Jika tidak, masa penanganan akan lebih panjang dari yang direncanakan,” lanjut Iwa.

Butuh kerjasama semua pihak, terutama masyarakat. Yang kita hadapi ini adalah musuh yang tidak kelihatan. Anda yang sehat, kelihatannya bugar. Bisa menjadi carrier. Ini bahayanya.

“Usaha pemerintah bersama dengan para relawan ini akan menjadi sia-sia, Ketika sebagian lainnya sepertinya berusaha untuk melawan arus. Ini, yang jadi korban akan lebih banyak. Dan jika kasus bertambah dengan cara yang tidak wajar, Tenaga medis kita terbatas. Sehingga, jumlah yang bisa tertolong akan semakin sedikit. Karena itu, pastikan semuanya bisa berjibaku, bersama melawan Corona,” tuturnya. *IWAN RAHMAT*

Tinggalkan Balasan