Kisah Ojol Memilih Mudik Lantaran Nganggur dan Istri Hamil Belum Dapat Bantuan

BANYAK yang terpaksa harus balik kamapung lantaran pekerjaannya di Kota ternyata tidak lagi menjanjikan, mereka lebih banyak nganggur. Padahal urusan perut tidak bisa dianggurkan.

Seperti dialami Mulayadi. Pria 39 tahun ini, sebelum wabah Coronavirus Disease (Covid-19) ‘menyerang’ Indonesia, dia nyaman bekerja sebagai tukang ojek online (Ojol) di Blok M Jakarta Selatan. Dirinya terpaksa pulang ke kampung halamannya di RT 04 RW 04 Desa Trunamanggala, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, lantaran selama tiga bulan terakhir menganggur.

”Setelah pulang kampung karena di Jakarta saya jadi nganggur. Karena ngga bisa pulang lagi, sudah selama tiga bulan,” ujar Mulyadi pada SUMEDANG ONLINE. Jumat, 1 Mei 2020.

Dia mengaku sudah 4 tahun berada di Jakarta. Dia pulang setelah mulai mewabahnya Covid-19 di Jakarta. Karena berasal dari zona merah, dia pun sempat menjadi orang dalam pengawasan (ODP) selama 14 hari lamanya.

”Saya sempat menjadi ODP pas pulang dan karantina mandiri saja selama 14 hari, dan selama ini saya hanya bantu bantu istri buat bata,” ungkapnya.

Hingga saat ini dia mengaku meski sudah didaftarkan sebagai penerima bantuan, namun bantuan yang ditunggu belum kunjung juga datang. Beruntung tetangganya masih ada yang berbaik hati mau berbagi.

”Sempat di data, tapi sampai sekarang belum ada kabar lagi. Teu acan aya bantosan, paling ti tatangga aya we nu masihan,” imbuhnya.

Untuk menyambung hidup dia bersama istrinya bekerja serabutan di tempat pembuatan bata dengan hitungan seribu bata mendapat upah Rp30 ribu. Jumlah sebanyak itu tidak bisa dikerjakan selama sehari, bisa jadi dua hari lantaran harus menunggu kering.

Disaat bersamaan istrinya saat ini sedang hamil dengan usia kandungan memasuki 7 bulan, dan order dari pembuatan bata pun tengah tersendat lantaran pembangunan yang juga terhambat oleh wabah Coronavirus.

”Istri saya lagi hamil, saya berharap kami dapat bantuan dari Pemerintah. Kalau ngutang terus sudah nggak pada ngasih. Uang pun saya tidak punya sepersen pun sehingga buat makanp un bingung. Berharap kepada pemerintah ada uluran tangan untuk bisa menghidupi buat sehari-hari,” ungkapnya.

Dia berharap bantuan dari Pemerintah segera datang karena tanggungan semakin berat manakala anak sulungnya bersiap melanjutkan ke SMP, sementara anak ke-dua masih duduk dibangku sekolah dasar.

SUMEDANG ONLINE mencoba menelusuri bantuan yang masuk ke Desa Trunamanggala. Menurut Pj Kepala Desa Rahmana pihaknya baru mendapat bantuan dari Provinsi Jawa Barat melalui Kantor Pos. Data tersebut dikatakan Rahmana bukan merupakan usulan dari Desa tetapi bersumber dari DTKS Provinsi Jawa Barat.

”Yang dibantu dari DTKS Provinsi mendapatkan sebanyak 44 orang, yang tertera di DTKS provinsi hari ini di realisasikan. Difasilitasi di Balai Desa Trunamanggal, karena banyak datanya yang kurang valid. Diantaranya beda nik, beda nama, seperti itu. Jadi Desa memfasilitasi surat keterangan-keterangan. Supaya datannya akurat dan dapat direalisasikan pada masyarakat,” jelas dia.

Disinggung berapa banyak yang diusulkan Trunamanggala untuk penerima bantuan, dia menyebutkan secara kasat mata yang terkena dampak Covid-19 jumlahnya mencapai 270 penerima. Namun jumlah tersebut terus mengalami penurunan karena sejumlah kritera.

”Ternyata yang pengusulan 270 itu merosot lagi, tinggal 185 penerima. Dari jumlah itu kan dilihat lagi kriterianya, karena kan RT RW juga sama hati-hati, karena kan harus mempertanggungjawabkannya,” jelasnya.

Sementara yang tecover oleh PKH dan BPNT sebanyak 2.500 penerima. ”Yang mendapat bantuan itu kan tak boleh mendapatkan lagi. Dan sisanya 407 orang. Da ieu mah pak tergantung sosialisasi sekarang mah dengan RT RW nya, kumaha atuda. Merasa kumaha haduh, ayeuna mah terpukul pak. RT RW desa kan ngedumel. Terus sapa warga ayeuna pake foto segala, pan karunya pa olot ge nu motoanna kadang-kadang sok ngaromong ari abdi teu dipoto ari itu dipoto. Itu kan jadi pertanyaan, kan abdi ge sami wae. Kadang kala desa memilih dan memilah sebetulnya mah sudah dilaksanakan seperti itu, sementara pandangan warga kan beda,” curhatnya. **IWAN RAHMAT**

Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *