Salahsatu toko masih buka disegel oleh Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Sumedang.

 Salahsatu toko masih buka disegel
Salahsatu toko masih buka : Salahsatu toko masih buka disegel oleh Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Sumedang.

Satpol PP: PSBB Tahap Satu Warga Sumedang Lebih Taat dari Tahap II

Pilihan Redaksi SUMEDANG

SUMEDANG – Kepala Bidang Penegakan Peraturan Perundang Undang Daerah Satpol PP Sumedang Deni Hanafiah menilai warga Sumedang lebih patuh pada Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap pertama dibandingkan dengan tahap ke-dua.

“Kalau kita lihat, PSBB Pertama tingkat Kabupaten yang dari tanggal 22. Selama 14 hari itu. Dibanding dengan putaran ke-dua, kalau saya lihat masyarakat cenderung lebih patuh pada saat PSBB pertama. Walaupun pada saat itu, tiga hari pertama masyarakat agak sedikit kaget. Cuman dengan berjalannya waktu, dengan berjalannya sosialisasi. Mereka sadar, dan mereka mengikuti apa itu PSBB pertama,” ujar Deni.

Meski dari sisi pelanggaran ada yang naik, turun dan rata-rata air. Karena pelanggarannya relatif datar, kemudian dilanjutkan dengan PSBB ke-dua, tingkat provinsi. “Kemudian munculah PSBB provinsi, nah Sumedang kan menyesuaikan. Sehingga turunlah PSBB putaran ke-dua dengan Perbup yang sebelumnya nomor 30/2020. Dan untuk putaran ke-dua ini dilanjutkan dengan Perbup 40/2020 tentang PSBB dimana di dalamnya ada beberapa revisi tentang boleh dan tidak boleh dilaksanakan,” jelas dia.

Pada saat PSBB tahap ke-dua ini sebut Deni, ada kecendrungan masyarakat sudah mulai jenuh. Apalagi berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri, meski petugas tidak bosan-bosannya mengingatkan.

“Tapi masyarakat cenderung sepertinya acuh tak acuh, sehingga kami memberikan penegasan. Selama penegasan pertama pada putaran ke-satu, penegesannya lebih condong ke edukasi. Untuk yang kedua, kita berusaha untuk lebih meneggak dan mendisiplinkan,” ungkapnya.

Imbasnya pada 19 Mei 2020, ada pemilik toko, yang terpaksa tempat usahanya di segel. “Itu karena masyarakat membutuhkan barang-barang kebutuhan lebaran, kemudian toko ada peluang dari segi ekonomi. Akhirnya mereka mencuri-curi. Kemarin itu ada yang sedikit ngeyel, tertangkap tangan, sehingga kita segel. Ini menunjukkan seolah-olah masyarakat sudah jenuh, sehingga mereka menantang: Kareplah yang penting mah bisa beli baju dulag, seperti itu. Padahal mereka tidak terpikirkan bahwa sekarang Virus Corona ini tidak ketahuan fisikli nya, nah ini yang harus kita waspadai,” tandasnya. *IWAN RAHMAT*

Tinggalkan Balasan