Pemerintah mengharuskan pendidikan melakukan pembelajaran jarak jauh. Bagaimana siswa mengomentari terkait hal ini. Menurut dua dara cantik dari SMAN 1 Sumedang, Novalia Ramadhanti dan Cantika Siti, belajar di rumah dirasakan membikin mereka boring.

 iwan rahmat/sumedangonline
Dirasa Boring : Pemerintah mengharuskan pendidikan melakukan pembelajaran jarak jauh. Bagaimana siswa mengomentari terkait hal ini. Menurut dua dara cantik dari SMAN 1 Sumedang, Novalia Ramadhanti dan Cantika Siti, belajar di rumah dirasakan membikin mereka boring.

Belajar dari Rumah Menurut Siswa Dirasa Kurang Efektif, Tanggapan Wakasek Kurikulum

PENDIDIKAN Pilihan Redaksi

SUMEDANG, SO — Pemerintah mengharuskan pendidikan melakukan pembelajaran jarak jauh. Bagaimana siswa mengomentari terkait hal ini. Menurut dua dara cantik dari SMAN 1 Sumedang, Novalia Ramadhanti dan Cantika Siti, belajar di rumah dirasakan membikin mereka boring.

“Menurut saya waktu kemarin belajar di rumah bosen banget, terus sewaktu belajar online juga. Nggak terlalu efektif, karena ada guru yang masuk ada yang nggak. Kadang satu bulan itu, guru itu masuknya cuman dua kali. Terus terlalu banyak tugas juga daripada ngejelasi materinya,” ujar Novalia, siswi Kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Sumedang ini.

Imbas dari banyaknya tugas daripada materi yang dijelaskan oleh guru, pada saat mereka mengerjakan tugas akhirnya membuat bingung sendiri. “Karena materinya belum paham,” ungkapnya.

Selain itu menurut Cantika, mereka juga merasa kekurangan buku paket. “Karena kan kalau di rumah saja kan nggak ada buku paket. Terus ada orangtua yang nggak mampu juga membeli buku paket. Jadi kan kalau misalkan di sekolah itu. Kalau misalkan mau buku paket ada di Perpustakaan, sementara di rumah tidak ada. Jadi kita tuh kurang membaca juga, mambaca materi pelajaran,” ungkapnya.

Apalagi sebut dia, sebentar lagi mereka akan masuk ke kelas III. Mereka pun tidak mengetahui apakah belajar di rumah akan berlanjut hingga kelas III atau tidak.

“Tapi kalau misalnya berlanjut buat nanti pembekalan ke depannya. Buat ujian nanti, pasti kita nggak akan ada pembekalan. Walau pun di daring materi, tapi masih belum efektif, kalau di daring. Jadi lebih baik tatap muka,” harap mereka.

Dikatakan mereka, selama belajar di rumah mereka pun diam saja di rumah dengan sistem belajar online melalui aplikasi WhatsApp. Mereka pun disana di kasih tugas dan angket untuk menjawab pertanyaan buat tugas dan ulangan harian.

“Kadang dikasih tugas atau materi dalam file dokumen. Jadi kita harus unduh buat, harus punya aplikasi juga di HP,” beber mereka.

Mereka pun mengaku datang ke sekolah baru kali ini, saat pembagian rapor berlangsung. Selama kurang lebih tiga bulan lamanya, selama itu mereka mengaku tidak pernah datang ke sekolah.

“Harapannya (pada pemerintah) kalau dimungkinkan, Pemerintah juga nggak bisa apa apa kan. Karena Corona itu. Semoga saja pemerintah bisa lebih, dalam hal kesehatan bisa dilebih ditingkatkan. Karena kan kalau kita sehat, corona pasti cepat berlalu, kita bisa belajar tatap muka,” ungkapnya.

Mereka pun berpendapat jika Corona sudah turun tingkat penyebarannya, mereka berharap dapat belajar tatap muka. “Cuman sekolahnya tetap buka saja, karena kalau daring itu tidak efektif. Sangat nggak efektif. Mungkin dikurangin jam pelajarannya, soalnya di rumah juga ngga jelas. Kadang ngga ada pembelajaran sama sekali tapi tugas ada, jadi malah bikin bingung,” pungkas mereka.

Menurut Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum pada SMA Negeri 1 Sumedang, Titin Suryati Sukmadewi, terkait pembelajaran online pihaknya membagi dalam dua kategori yakni pembelajaran KBM Online dan penilaian Online.

“Jangan sampai terkesan hanya pengumpulan tugas saja secara online, banyak keluhan siswa terkait pembelajaran secara online. Dan kita tidak mau seperti itu, hanya memberikan tugas saja karena di kita ada sesi pemberian materi dengan menggunakan zoom. Ada juga yang filenya langsung dikasih, sementara untuk penilaian digunakan Google Classroom atau yang lainya. Jadi jangan terkesan pembelajaran melalui online hanya memberikan tugas saja,” jelas Titin.

Sementara sebagai pengganti tatap muka dengan siswa, supaya siswa paham tapi melalui Online. “Kita mau tidak mau harus mengikuti zaman. Dan apabila terjadi sinyalnya kurang bagus ketika pelaksaanaan banyak teknik yakni bisa cari di link YouTube. Kalaupun pernah ada yang ngeluh terkait kuota. Kita bantu 1,5 giga bantuan dari Dana Bos sebanyak 850 Siswa kita kerja sama dengan Telkomsel. Dan ketika kami periksa terkait siswa yang tidak punya Ponsel kita fasilitasi belajar di sekolah dengan menggunakan internet sekolah,” pungkas dia. ***

Tinggalkan Balasan