Pembangunan TPS 3R, Kades Citali: Warga Sempat Menolak Karena Disangka TPA

  • Terbit Rabu, 19 Agustus 2020 - 22:26 WIB
  • SUMEDANG
  • REPORTER: IWAN RAHMAT
  • EDITOR: Fitriyani Gunawan

SUMEDANG, SO — Pembangunan Tempat Pembuangan Sampah Reuse, Reduce, dan Recycle (TPS 3R) sempat ditolak warga di Dusun Lebak Gede, Desa Citali, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang.

Nana Nuryana selaku Kepala Desa Kades Citali membenarkan warganya sempat menolak TPS 3R karena adanya misskomunikasi. Warga, dikatakan dia, menyangka jika tempat pembuangan sampah yang akan dibangun di wilayahnya itu tempat pembuangan akhir sampah. Namun kemudian setelah diberi penjelasan, warga pun akhirnya memahami dan menyetujui.

“Warga sangat menyetujui. Ada pun kemarin sempat mempertanyakan, karena memang pemahaman di warga itu, tempat pembuangan akhir. Makanya, ada semacam pernyataan tidak setuju, karena memang mereka yang tidak setuju itu adalah tempat pembuangan akhir. Ya, kami pun sebagai kades akan menolak yang paling pertama, jika itu tempat pembuangan akhir. Tapi setelah dijelaskan ada tahapan acara, sosialisasi, rembug warga, akhirnya warga mengerti dan sangat antusias,” ujar Nana saat dikonfirmasi SUMEDANGONLINE sekaligus jawaban bagi warga yang telah mengirim keluhan ke redaksi SUMEDANGONLINE. Rabu, 19 Agstus 2020

Dikatakan dia pembangunan TPS 3R yang berlokasi di RT 001 RW 004 itu merupakan program Citarum-Harum dengan alokasi anggaran sebesar Rp600 jutaan. “Baru dua mingguan, baru sebatas pemondasian. Anggarannya dari APBN (Rp) 600 jutaan,” imbuhnya.

Nantinya disebutkan Nana, di tanah seluas 10×20 meter itu akan dibangun kantor, MCK untuk TPS 3R. Menurutnya pembangunan tidak sembarnagan namun terkonsep dengan baik tidak seperti tempat pembuangan akhir sampah.

“Intinya dengan TPS 3R ini si pengelola dan warga itu belajar banyak tentang kaitan sampah mulai dari mengurangi terus menggunakan kembali dan mendaur ulang. Jadi intinya bukan pembuangan sampah akhir, karena itu tugas Dinas Lingkungan Hidup bukan tugas desa, sebetulnyamah. Sejauh mana dalam hal ini LH di wilayah-wilayah dan masyarakat seharusnya sudah final urusan sampah urusan dinas. Cuman ada program seperti ini, ya desa sudah mengajukan bahkan sudah tertuang diperencanaan. Alhamdulillah dapat, cuman konsepnya seperti itu dan itu pun dibatasi tidak semua warga. Maksimal pun untuk 200 an KK,” ungkapnya.

Untuk pengelolaanya sendiri, akan dilaksanakan oleh Kelompok Pemanfaat dan Penerima (KPP).

“Jadi KPP itu yang akan mengelola dengan masyarakat sebagai anggotanya nanti di sana ada aturannya, ada AD ART nya, memang semuanya tidak lepas dari aturan yang harus dijalankan baik oleh pengelola maupun yang dikelolanya,” jelasnya.

Bahkan diakhu Nana, program TPS 3R telah masuk sesuai dengan visi misi dirinya sebagai kades, dan tertuang dalam RPJM Desa. “Memang itu jadi target, pengelolaan sampah yang benar-benar bisa dijalankan dan bermanfaat bagi masyarakat. Karena selama ini setiap warga, meski pun keadaanya masih kampung begini. Tetapi sampah tiap hari, bukan berkurang malah bertambah, nah ini yang harus kita antisipasi terutama masalah sampah plastik atau yang B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Kalau organik masih bisa dikelola, dan sebenarnya warga juga sudah terbiasa. Tapi ketika menghadapi masalah plastik?. Harapan kita, dengan konsep TPS 3R ini betul betul menjadi solusi jitu permasalahan sampah. Karena kalau masih ada residu dibuang ke TPA, ya tetap. Intinya bukan menyelasaikan permasalahan tapi hanya memindahkan sampah dari kami ke daerah yang lain,” pungkas dia. ***

Baca Juga

ARTIKEL & OPINI PUBLIK