Pra Kongres Sunda 2020 di Sumedang Fokus Bahas Pertanian dan Ketahanan Pangan

SUMEDANG

KOTA, SUMEDANGONLINE – Menjelang pelaksanaan Kongres Sunda 2020, para tokoh masyarakat Sunda menggelar kegiatan Sawalamaya (Webinar) Daerah Pra Kongres Sunda 2020 dengan tema “Sunda Mandiri Pangan” di Gedung Negara Sumedang, Kamis (15/10) kemarin.

Acara diawali dengan pagelaran Seni Tarawangsa dan Tari Klasik serta diakhiri dengan sesi diskusi yang menghadirkan narasumber dan penanggap dari unsur pemerintah, akademisi, pengamat sosial, ekonom dan budayawan.

Bupati Sumedang H Dony Ahmad Munir menjadi salahsatu pembicara utama dalam kegiatan, yang dipandu Sekretaris Daerah Sumedang Herman Suryatma

Ketua Pelaksana, Avi Taufik Hidayat menyampaikan, kegiatan tersebut digelar dalam rangka persiapan menyambut Kongres Sunda 2020, dan Sumedang sebagai kabupaten pertama dilaksanakannya Sawala Daerah.

“Pra Kongres Sunda dilaksanakan pada Agustus 2020, namun karena berbagai pertimbangan dan masih dalam situasi pandemi Covid-19, akhirnya harus diundur ke bulan Oktober 2020,” ujarnya.

Pihaknya juga, sudah melakukan pertemuan dengan para tokoh Sunda untuk Pra Kongres, tetapi ternyata harus PSBB. Untuk itu, panitia memutuskan, Pra Kongres yang biasanya dilaksanakan terbuka, sekarang diubah dalam bentuk Sawalamaya (Webinar).

“Pra Kongres kali ini fokus membahas masalah pertanian dan ketahanan pangan serta memutuskan beberapa hal, diantaranya terkait bagaimana adeg-adeg atau ideologi Sunda supaya bisa ‘nanjeur’ di dunia,” ungkapnya.

Setelah ‘adeg-adeg’, sambung Avi, dia bersama para tokoh Sunda akan memperbaiki ‘sarakan’ atau kondisi tanah air orang Sunda yang tidak terlepas dari masalah efektivitas pertanian di Jawa Barat,¬† termasuk Kabupaten Sumedang.

“Hasil pertanian Sumedang surplus dan tersebar ke seluruh Jawa Barat. Ini menjadi contoh bagi kabupaten lain. Disaat yang sama harus dicari pertanian yang efektif agar produktifitas perhektar lebih banyak lagi,” kata Avi.

Pihaknya berharap, hasil webinar dapat memberikan pencerahan kepada para pejabat yang memegang kebijakan publik. Lebih jauh, nanti bisa diproses sebagai bahan kongres agar menjadi wacana Jawa Barat.

Sementara itu, Bupati Sumedang Dr H Dony Ahmad Munir selaku narasumber memberikan apresiasi atas inisiatif pihak penyelenggara menjadikan Sumedang sebagai tempat pertama penyelenggaraan Sawala Daerah Pra Kongres Sunda 2020.

Dony mengharapkan, pertemuan para tokoh Sunda tersebut dapat menghasilkan kebijakan, ide dan gagasan yang tepat untuk merumuskan solusi atas persoalan dalam mewujudkan Sunda mandiri pangan.

“Jika melihat potensi di Jawa Barat, kekayaan alamnya melimpah ruah. Jadi tinggal dimanfaatkan secara optimal melalui kebijakan yang tepat untuk mewujudkan Sunda mandiri pangan ini,” katanya.

Bupati mengatakan, Sumedang telah lama mendeklarasikan diri sebagai Puseur Budaya Sunda (SPBS) dan belum lama ini telah menetapkan Perda SPBS.

Dengan Perda ini, diharapkan nilai-nilai kesundaan menjadi daya ungkit untuk meningkatkan etos kerja dalam mewujudkan kesejahteraan.

“Jadi tidak salah dan sangat tepat sudah menjadikan Sumedang sebagai tempat ‘munggaran’ (pertama) dilaksanakan Pra Kongres,” katanya.

Bupati menginformasikan, Kabupaten Sumedang saat ini mengalami surplus pangan. Bahkan beberapa komoditas pertanian sudah dipasarkan ke Jakarta dan daerah lain di Jawa Barat.

Untuk itulah, pemerintah daerah berkewajiban untuk mempertahankan surplus pangan di Sumedang. Terutama dalam menjaga lahan-lahan produktif agar tetap dapat menghasilkan produksi pertanian.

“Alhamdulillah, saat ini kondisi pangannya kita surplus. Insya Allah sampai bulan Desember 2020 pun surplus terutama padinya,” jelasnya.

Dikatakannya, kata kunci ketahanan pangan adalah harus memahami pangan dan pemenuhannya secara mendalam dan menyeluruh, mulai dari pemenuhan dalam produksi, distribusi sampai dengan pemenuhan konsumsi.

Kaitan hal itu, lanjut bupati, dalam menangkap peluang dan menjawab tantangan ketahanan pangan, kearifan Budaya Sunda yang harus dijaga dan dipelihara.

Ia mengatakan, setidaknya ada tiga perubahan besar atau “triple disruption” yang harus disikapi di era sekarang yakni pandemic disruption, digital disruption dan millenial disruption.

“Saat ini serta ke depan,’triple disruption’ tersebut¬† telah dan akan merubah tatanan kehidupan menuju tatanan dunia baru (Mega Trend),” ujarnya.

Kemajuan teknologi dalam bidang pertanian harus bisa dimanfaatkan.

“Potensi Pentahelix ABCGM harus dikapitalisasi untuk kepentingan pembangunan pertanian dan pangan,” tuturnya.

Selain Bupati Sumedang, narasumber lainnya adalah Ramadani Eka Putra dari STIH ITB, Eep S Maqdir dari Swadaya Petani Indonesia. Hadir pula anggota DPD Eni Sumarni, budayawan Sunda Acil Bimbo, dan tokoh Sunda lainnya. ***

Tinggalkan Balasan