Kepala BBWS: Bahaya Kalau Air Jatigede Sampai Tercemar, Tak Bisa Digunakan

WADO, SO – Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung, Dr. Ismail Widadi ST, MSC., menyayangkan apabila bendungan Jatigede yang sudah dibangun dengan anggaran triliunan rupiah tak dapat digunakan, lantaran tercemar sampah. Karena itu sebut dia, pihaknya melakukan updaya nyata dengan membersihkan sampah yang menumpuk di pinggir bendungan terutama yang ada di wilayah Kecamatan Wado di betulan Tugu Wado. Kamis, 4 Februari 2021.

“Bendungan Jatigede dibangun oleh BBWS. Bendungan ini tujuannya untuk pengumpulan air, air untuk mengairi sawah, air untuk air minum. Kalau airnya tercemar seperti ini tidak bisa digunakan. Sayang sekali infrastruktur yang dibangun dengan investasi triliunan rupiah apabila airnya tidak dapat digunakan. Jadi aksi kami hari ini juga menyadarkan pada masyarakat, kami tidak hanya membangun tapi kami juga menunjukkan pada masyarakat yu kita rawat juga bendungan yang sudah kita bangun,” ungkap Ismail pada SUMEDANGONLINE di Bendungan Jatigede sesaat meninjau aksi BBWS yang melakukan pembersihan sampah. Kamis, 4 Februari 2021.

Disinggung apakah BBWS akan membangun tempat pengelolaan sampah, dia memastikan pengelolaan sampah bukan bidang BBWS, BBWS hanya bertugas untuk mengelola waduk. “Pengelolaan sampah bukan bidang BBWS, BBWS hanya untuk pengelolaan waduk,” tandasnya.

Meski demikian sebut dia, jika sebuah daerah akan dijadikan destinasi wisata. Maka sudah seharusnya mempersiapkan pengelolaan sampah dengan sebaik-baiknya. Karena sebut Ismail, berdasarkan hasil penelitian dari 100 orang pengunjung ke sebuah objek wisata menghasilkan lebih kurang 15 kilogram sampah.

“Risiko suatu daerah menjadi tempat wisata adalah sampah. Karena memang budaya bangsa, budaya masyarakat yang memang harus dibenahi. Tercatat 15 kilogram sampah perseratus kunjungan. Setiap seratus pengunjung, ada 15 kilogram sampah yang ditinggalkan. Ini berdasarkan penelitian. Kalau kita bercita-cita memiliki tempat wisata, yang dikunjungi ribuan wisatawan, risikonya harus mempersiapkan pengelolaan sampah dengan sebaik-baiknya,” demikian Ismail Widadi. ***

Baca Juga

ARTIKEL & OPINI PUBLIK