Warga Gelar Istigasah Akbar Tolak Rencana Geothermal Gunung Tampomas

  • Terbit Rabu, 28 April 2021 - 20:37 WIB
  • DAERAH/SUMEDANG
  • REPORTER: Redaksi
  • EDITOR: Redaksi

SUMEDANGONLINE.COM, BUAHDUA – Warga Kecamatan Buahdua dan Kecamatan Conggeang Kabupaten Sumedang, menggelar Istigasah Akbar sebagai bentuk aksi penolakan rencana Eksplorasi Panas Bumi atau Geothermal Gunung Tampomas.

Pimpinan Ponpes Nurul Hidayah Cipatat Desa Sekarwangi Kecamatan Buahdua, KH Udin Fakhruddin menyebutkan, Istigasah Akbar dilakukan sebagai bentuk ikhtiar warga, agar pemerintah dapat mempertimbangkan kembali rencana Geothermal yang membidik lima kecamatan cincin Gunung Tampomas.

“Sebagai umat muslim, kita sudah seharusnya meminta kepada Allah SWT. Dan selain meminta perlindungan karena banyak musibah akhir-akhir ini, dalam rangka rencana Geothermal, maka saya sebagai masyarakat kecil dan semua masyarakat di lingkungan kami, menolak,” katanya usai acara yang digelar di Lapang Sepak Bola Jumbuh atau Mariuk Desa Sekarwangi Kecamatan Buahdua, Rabu 28 April 2021.

Dalam kesempatan itu juga, salah seorang tokoh masyarakat adat di Kecamatan Conggeang yang juga Ketua Yayasan Dangiang Raksa Banda Sajagat, Maman Surahman, menyampaikan alasan penolakan dari rencana geothermal itu. Yakni, berkaitan dengan dampak yang akan ditimbulkan saat dilakukan pengerjaan ataupun dari akhir pengerjaan.

Pemerintah, kata dia, perlu memikirkan kembali sejauh mana manfaat dan sejauh mana kerugian yang akan ditimbulkan dari rencara tersebut. Maman juga mencontohkan, di wilayahnya ada kali atau sungai Cipanas yang berasal dari hulu di Gunung Tampomas mengalir sampai ke Indramayu.

“Dari hulu sampai ke hilir itu banyak pemanfaatannya. Bahkan mampu mengairi 150 ribu hektare pesawahan. Hal ini perlu adanya dipertimbangkan lagi, karena nantinya akan menyangkut pada pengolahan pangan di sektor pertanian, karena sangat bergantung pada sektor pengairan,” sebutnya.

Dijelaskan juga, lanjut Maman, Pemerintah Kabupaten Sumedang serta Dinas Lingkungan Hidup dan Pariwisata, padahal telah membuat nota kesepahaman mengenai perlindungan ekosistem lingkungan.

“Itu untuk melindungi ekosistem lingkungan, dan khususnya air. Aliran Sungai Cipanas ini menjadi salahsatunya yang harus dilindungi atau dilestarikan. Maka dari itu, ini perlu pertimbangan kembali dari pemerintah. Perlu juga adanya pertimbangan sejauh mana akan manfaat dan dampaknya. Baik itu dampak lingkungan dan juga sosialnya. Sejauh ini di Sumedang banyak proyek besar namun itu kami rasa belum optimal,” tukasnya. ***

Baca Juga

ARTIKEL & OPINI PUBLIK